TRENDING
MENU

Storytelling Islami Didorong Jadi Strategi Penguatan Akhlak Anak di TK Jalaluddin Diwet Pogar

3 menit membaca
Handono

Pasuruan — Penguatan pendidikan akhlak pada anak usia dini terus dikembangkan melalui pendekatan pembelajaran yang lebih komunikatif dan dekat dengan dunia anak. Salah satunya dilakukan di TK Jalaluddin Diwet Pogar, Bangil, Kabupaten Pasuruan, melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) bertema penanaman nilai agama dan moral menggunakan metode storytelling Islami.

Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari, 16–18 Juli 2026, tersebut diarahkan untuk memperkuat kapasitas guru dalam menyampaikan pendidikan akhlak tidak hanya melalui pembiasaan dan hafalan, tetapi juga melalui cerita yang mampu melibatkan imajinasi serta pengalaman emosional anak.

Selama ini, pendidikan nilai agama dan moral di TK Jalaluddin Diwet Pogar telah diterapkan melalui sejumlah kegiatan rutin, seperti berdoa, mengucapkan salam, serta bersalaman dengan guru. Namun, proses pembelajaran masih menghadapi tantangan dalam mendorong anak menerapkan nilai tersebut secara konsisten dalam perilaku sehari-hari.

BACA JUGA  Evaluasi Fungsi Humas, Polresta Sumenep dan Jaringan Demokrasi Sumekar Sepakat Perkuat Sinergi

Beberapa sikap yang masih perlu diperkuat antara lain keberanian mengakui kesalahan, meminta maaf, serta menghargai teman dan guru. Kondisi tersebut menjadi perhatian dalam pelaksanaan kegiatan PkM.

Guru Diperkuat dengan Metode Storytelling

 

Rangkaian kegiatan diawali dengan pre-test untuk memetakan pemahaman awal peserta mengenai pendidikan akhlak. Materi kemudian diberikan secara bertahap selama tiga hari.

Pada hari pertama, peserta mendapatkan materi mengenai pendidikan akhlak yang disampaikan Nanang Rokhman Saleh. Hari berikutnya difokuskan pada pembahasan penanaman nilai agama dan moral sebagai bagian dari pembentukan akhlak anak.

Sementara pada hari ketiga, peserta mendapatkan pembekalan mengenai penerapan storytelling Islami dalam pembelajaran anak usia dini.

Kegiatan melibatkan guru TK Jalaluddin Diwet Pogar serta mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PG PAUD) Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA).

BACA JUGA  Edukasi Penggalangan Dana di SMA/SMK Negeri Blitar: MAPI Jatim Tegaskan Transparansi dan Sukarela

Tidak berhenti pada penyampaian materi, peserta juga diberikan kesempatan mempraktikkan metode storytelling Islami dalam kegiatan pembelajaran. Pendekatan tersebut dirancang agar guru mampu mengemas pesan moral melalui tokoh, alur cerita, dialog, dan situasi yang mudah dipahami anak.

Setelah seluruh rangkaian pelatihan selesai, peserta kembali mengikuti post-test untuk melihat perubahan pemahaman setelah mendapatkan materi dan praktik.

Hasil kegiatan menunjukkan respons positif dari para peserta. Materi pelatihan dinilai relevan dengan kebutuhan pembelajaran anak usia dini dan memiliki peluang untuk diterapkan secara langsung di lingkungan sekolah.

Cerita sebagai Jembatan Pendidikan Karakter

Storytelling Islami dinilai dapat menjadi salah satu alternatif untuk menyampaikan nilai agama dan moral dengan cara yang lebih menarik bagi anak. Melalui cerita, anak dapat mengenali perilaku baik dan buruk melalui pengalaman tokoh serta alur yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

BACA JUGA  Tanamkan Budaya Integritas Sejak Dini, SMP UMI Sundari Sidomukti Kraksaan Gelar Edukasi Antikorupsi

Pendekatan tersebut memungkinkan pendidikan akhlak tidak hanya berorientasi pada kemampuan mengingat atau menghafal, tetapi juga mendorong anak memahami makna dari perilaku yang diajarkan.

Nilai seperti kejujuran, tanggung jawab, keberanian meminta maaf, menghargai orang lain, dan kepedulian dapat diperkenalkan melalui cerita yang sesuai dengan tingkat perkembangan anak.

Kegiatan PkM tahun 2026 ini sekaligus memperkuat kolaborasi antara pendidik dan perguruan tinggi dalam mengembangkan pendidikan karakter sejak usia dini. Penerapan storytelling Islami secara konsisten diharapkan dapat membantu guru menciptakan pengalaman belajar yang lebih interaktif sekaligus mendukung pembentukan karakter anak di sekolah maupun keluarga.

Dengan pendekatan yang tepat dan dilakukan secara berkelanjutan, pendidikan akhlak diharapkan tidak berhenti sebagai materi pembelajaran, tetapi tumbuh menjadi kebiasaan dan tercermin dalam perilaku anak dalam kehidupan sehari-hari.

(rn-ha)

Bagikan Disalin