
Sorong, Papua Barat Daya — Penguatan kompetensi guru Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK) menjadi bagian penting dalam mendorong pembelajaran yang lebih adaptif dan inklusif di sekolah dasar. Upaya tersebut dilakukan melalui kegiatan diseminasi dan pembekalan modul pembelajaran PJOK berbasis pembelajaran mendalam (deep learning) dan prinsip pendidikan inklusif bagi guru SD se-Kota Sorong.
Kegiatan ini menghadirkan Dr. Rif’iy Qomarrullah, S.Pd., M.Or., akademisi FKIP Universitas Cenderawasih, sebagai narasumber. Materi yang diberikan diarahkan untuk membantu guru memahami pola pembelajaran PJOK yang tidak hanya menekankan aktivitas fisik, tetapi juga membangun pengalaman belajar yang lebih bermakna bagi peserta didik.
Dalam pendekatan tersebut, aktivitas olahraga dan gerak ditempatkan sebagai bagian dari proses belajar yang mendorong peserta didik untuk memahami, mengalami, merefleksikan, dan menerapkan pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari.
Dr. Rif’iy menekankan bahwa guru PJOK perlu mengikuti perkembangan paradigma pendidikan agar pembelajaran dapat menjawab kebutuhan peserta didik yang semakin beragam.
“Pembelajaran PJOK bukan sekadar membuat peserta didik bergerak, tetapi bagaimana aktivitas gerak menjadi pengalaman belajar yang bermakna, membangun karakter, dan memberikan kesempatan yang sama bagi setiap anak untuk berkembang,” demikian pesan yang disampaikan dalam kegiatan tersebut.
Aspek inklusivitas menjadi perhatian utama dalam pembekalan. Guru didorong mampu menyesuaikan permainan, aktivitas olahraga, maupun latihan fisik berdasarkan karakteristik, kemampuan, dan kebutuhan masing-masing peserta didik.

Pendekatan tersebut diharapkan dapat mendorong terciptanya pembelajaran PJOK yang tidak hanya berorientasi pada pencapaian kemampuan fisik tertentu. Setiap anak diharapkan memperoleh kesempatan yang setara untuk berpartisipasi, belajar, dan berkembang dalam suasana yang aman serta menyenangkan.
Selain meningkatkan kapasitas guru, kegiatan ini juga memperkuat hubungan antara dunia akademik dan praktik pendidikan di sekolah. Keterlibatan perguruan tinggi dinilai dapat menjadi ruang pertukaran pengetahuan sekaligus membantu guru memperoleh perspektif baru dalam menghadapi tantangan pembelajaran di lapangan.
Melalui pembekalan tersebut, guru PJOK di Kota Sorong diharapkan mampu mengembangkan perangkat pembelajaran yang lebih inovatif, kontekstual, dan responsif terhadap keberagaman peserta didik.
Penguatan pembelajaran mendalam dan pendidikan inklusif pada akhirnya tidak hanya diarahkan pada peningkatan keterampilan olahraga, tetapi juga pada pembentukan karakter, kemampuan berpikir, pengalaman sosial, serta tumbuhnya kepercayaan diri peserta didik dalam mengikuti proses pendidikan. (rn-ha)
