
Surabaya — Fakultas Kedokteran Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (FK UNUSA) memperkuat edukasi kesehatan di lingkungan pesantren melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (Pengmas) yang berfokus pada Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), khususnya kesehatan telinga, hidung, dan tenggorok (THT).
Kegiatan yang berlangsung pada Mei 2026 tersebut melibatkan 30 santri jenjang SMP dan SMA di salah satu pondok pesantren di Surabaya. Program ini diarahkan untuk meningkatkan pemahaman santri mengenai kebersihan diri serta langkah pencegahan gangguan kesehatan yang berkaitan dengan organ THT.
Lingkungan pesantren yang dihuni dan digunakan bersama oleh banyak santri dinilai membutuhkan perhatian terhadap penerapan PHBS. Kebiasaan sehari-hari, kebersihan personal, serta pola interaksi antarsantri menjadi bagian penting dalam upaya menjaga kesehatan lingkungan.
Dalam kegiatan tersebut, tim FK UNUSA menyampaikan materi kesehatan melalui pendekatan edukasi interaktif. Para santri mendapatkan penjelasan mengenai cara menjaga kebersihan telinga, hidung, dan tenggorok, kebiasaan hidup bersih, serta langkah sederhana untuk mengurangi risiko gangguan kesehatan dan infeksi saluran pernapasan.
Peserta juga diberi ruang untuk berdiskusi dan mengajukan pertanyaan berdasarkan kebiasaan maupun pengalaman sehari-hari. Pola komunikasi dua arah tersebut digunakan untuk membantu santri memahami materi sekaligus meluruskan pemahaman yang kurang tepat mengenai kesehatan THT.
Selain edukasi, kegiatan dilengkapi pemeriksaan kesehatan dan pemeriksaan dasar THT. Pemeriksaan tersebut menjadi bagian dari pendekatan promotif dan preventif, sekaligus memberikan kesempatan kepada santri untuk memperoleh informasi kesehatan secara langsung dari tim medis.
Antusiasme peserta terlihat selama sesi edukasi dan pemeriksaan berlangsung. Sejumlah topik yang berkaitan dengan kebiasaan menjaga kebersihan menjadi bahan diskusi antara santri dan tim Pengmas.
Melalui kegiatan tersebut, FK UNUSA mendorong santri agar tidak hanya memahami pentingnya PHBS, tetapi juga mampu menerapkannya secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari. Kesadaran terhadap kesehatan THT diharapkan dapat membantu santri mengenali kebiasaan yang berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan serta melakukan pencegahan sejak dini.
Program ini sekaligus menjadi bagian dari kontribusi perguruan tinggi dalam meningkatkan literasi kesehatan masyarakat. Edukasi langsung yang dipadukan dengan pemeriksaan dasar diharapkan dapat memperkuat upaya promotif dan preventif, khususnya di lingkungan pendidikan berbasis pesantren.
Penulis: Bambang Edi Suwito, dr., M.Si.
Wartawan: Handono