TRENDING
MENU

Lewat EWOLI (Edugame Wordwall Inklusi), Tim Dosen UNUSA Bantu Anak PAUD Yang ‘Slow Learner’ Kelola Emosi Dengan Baik

4 menit membaca

SURABAYA — Anak dengan kondisi slow learner (lambat belajar) kerap kali menghadapi tantangan ganda di sekolah usia dini. Selain membutuhkan waktu lebih lama untuk memahami pelajaran, mereka sering kali kesulitan mengenali dan mengontrol emosi. Menjawab tantangan tersebut, tim pengabdian masyarakat dari Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA) menciptakan inovasi berupa Edugame Wordwall Inklusi (EWOLI). Inovasi media belajar digital interaktif ini diterapkan langsung di PAUD RA Yaa Bunayya Darussalam, Surabaya. Hasilnya mencatatkan perubahan positif, tidak hanya bagi para siswa, tetapi juga meningkatkan kemampuan guru dan orang tua dalam mendampingi tumbuh kembang emosional anak.

Gambar 1. Anak dengan karakteristik Slow Learner Bermain Edugame Wordwall Inklusi (EWOLI)

Mengenal Media EWOLI: Game Digital Interaktif yang Ramah Anak

EWOLI (Edugame Wordwall Inklusi) merupakan game edukasi interaktif berbasis platform Wordwall yang kontennya dirancang khusus menyesuaikan kebutuhan anak slow learner. Media ini mengombinasikan visual yang konkret, alur yang sederhana, serta elemen permainan yang interaktif untuk menstimulasi regulasi emosi anak tanpa menimbulkan beban kognitif berlebih. Secara teknis, EWOLI dibekali berbagai fitur utama yang membedakannya dari media pembelajaran konvensional:

  1. Format Permainan Variatif & Konkret: Menyediakan beragam modus game interaktif seperti kuis pilihan visual, roda putar (random wheel), mencocokkan gambar (matching pair), dan kartu acak. Fitur ini memudahkan anak mengekspresikan respons emosi secara langsung pada layar.
  2. Desain Audio-Visual Adaptif: Menggunakan gambar ekspresi emosi yang jelas, kombinasi warna yang ramah anak, serta teks dan navigasi sederhana yang mudah dipahami oleh anak usia dini.
  3. Simulasi 6 Dimensi Emosi: Konten game disusun secara terstruktur untuk melatih enam aspek emosi utama, mulai dari mengenali emosi dasar, mengungkapkan perasaan, mengendalikan perilaku saat marah/frustrasi, menenangkan diri, memulihkan emosi, hingga berinteraksi sosial.
  4. Sistem Pembelajaran Bertahap & Berulang (Gamification): Memberikan instruksi singkat dan kesempatan pengulangan tanpa batas agar anak dapat belajar dari umpan balik (feedback) gim secara mandiri dan tanpa rasa takut salah.
  5. Kompatibilitas Multi-Perangkat: Media dapat diakses dengan mudah melalui smartphone, tablet, maupun komputer, sehingga sangat praktis digunakan saat pembelajaran di kelas maupun pendampingan di rumah.

Gambar 2. Tampilan Konten Edugame Wordwall Inklusi (EWOLI)

Solusi Konkret di Tengah Minimnya PAUD Inklusi

Ketua Tim Pengabdian Masyarakat UNUSA, Andini Hardiningrum, S.Pd., M.Pd., mengungkapkan bahwa akses terhadap pendidikan inklusif di jenjang PAUD masih sangat terbatas di Indonesia. Berdasarkan data, dari sekitar 96.958 lembaga PAUD di tanah air, baru sekitar 0,15 persen atau 149 lembaga yang berstatus PAUD inklusi.

“Anak slow learner membutuhkan media yang konkret, visual, sederhana, dan bisa diulang-ulang. Lewat media EWOLI yang dirancang interaktif melalui platform Wordwall, anak-anak diajak belajar mengenali dan mengendalikan emosi lewat permainan kuis, pencocokan gambar, dan roda putar emosi secara menyenangkan,” ujar Andini.

BACA JUGA  K3 Jawa Timur Paparkan Program Kerja 2025–2030 dalam Silaturahmi di Kediaman Mantan Gubernur

Sebelum adanya intervensi ini, hasil observasi menunjukkan sekitar 70% anak slow learner di lokasi pengabdian masih mudah terdistraksi dan 60% belum bisa menyelesaikan tugas secara mandiri. Tak jarang, mereka menunjukkan respons emosi berlebih seperti mudah marah, menangis, atau menarik diri dari aktivitas kelompok.

BACA JUGA  Pelatihan Permainan Sirkuit di SDN Sidotopo 1 Perkuat Karakter Kerja Sama Siswa

Hasil Efektif: Regulasi Emosi Anak Melonjak Drastis

Setelah diterapkan intervensi media EWOLI yang didampingi oleh guru dan orang tua, hasil evaluasi menunjukkan peningkatan yang sangat signifikan.

  1. Kemampuan pengelolaan emosi Anak Naik 28,2 Persen: Rata-rata kemampuan regulasi emosi dari 20 anak slow learner melompat dari kondisi awal 49,5% menjadi 77,7%. Peningkatan tertinggi terjadi pada dimensi interaksi sosial emosional, di mana anak-anak kini lebih luwes berinteraksi dengan teman sebayanya.
  2. Kompetensi Guru Meningkat: Sebanyak 8 guru PAUD mengalami peningkatan kompetensi mengajar dan pembuatan media inklusif digital dari 49,0% menjadi 81,3%.
  3. Pemahaman Orang Tua Menguat: Orang tua siswa kini lebih paham cara mendampingi anak menenangkan diri dan memulihkan emosi. Keterampilan orang tua melonjak dari 53,7% menjadi 83,0%.

Gambar 3. Sosialisasi pada Orangtua dan Guru

Membangun Kolaborasi Antara Sekolah dan Rumah

BACA JUGA  Storytelling Islami Didorong Jadi Strategi Penguatan Akhlak Anak di TK Jalaluddin Diwet Pogar

Program ini tidak hanya memfokuskan penggunaan gawai pada anak, tetapi juga menerapkan konsep scaffolding (pendampingan bertahap) serta sinergi antara lingkungan sekolah dan rumah. Guru dilatih merancang konten permainan edukatif yang aman dan menarik, sementara orang tua dibekali edukasi agar pola pendampingan emosi di sekolah dapat berlanjut dengan konsisten di rumah.

“Keberhasilan EWOLI membuktikan bahwa teknologi digital apabila dikemas dengan tepat dan didukung oleh ekosistem guru serta orang tua yang kompak, bisa menjadi sarana inklusif yang sangat efektif bagi anak berkebutuhan khusus,” pungkas Andini.

Inovasi ini diharapkan dapat terus digunakan secara berkelanjutan di RA Yaa Bunayya Darussalam Surabaya serta menjadi percontohan (best practice) yang dapat direplikasi oleh lembaga PAUD inklusi lainnya di Indonesia.

Wartawan: (rn-ha)

Bagikan Disalin