MENU

Bukan Cari Tenar, Bang Ali Ungkap Rahasia di Balik Nama “Ainun Bani” yang Ditolak Griya Lansia

3 menit membaca
Budi Wahono
Headline, Malang Raya, Sosial - 14 Jul 2026

REPORTASE NEWS, Malang – Di balik gemerlap angka donasi miliaran rupiah, dunia filantropi kerap kali berbenturan dengan dinding keras bernama regulasi internal dan prinsip dasar organisasi. Polemik panas mengenai nasib bantuan jumbo senilai Rp2 miliar yang digelontorkan oleh Yayasan Bani Insan Peduli (BIP) untuk Griya Lansia Malang dan Griya Yatim Sidoarjo akhirnya memasuki babak baru setelah pendiri BIP Foundation, H. Ali Zainal Abidin, buka suara guna mengurai benang kusut yang telanjur liar di ruang publik.

Pernyataan resmi yang dirilis di hadapan media pada Minggu (12/07/2026) tersebut menjadi momen penting yang menggeser debat kusir di media sosial menjadi sebuah refleksi humanis. Kasus ini bukan sekadar urusan batal atau tidaknya sebuah donasi, melainkan benturan prinsipil antara filosofi bakti anak melawan independensi kelembagaan penerima manfaat.

Berdasarkan klarifikasi yang disampaikan oleh pria yang akrab disapa Bang Ali tersebut, terdapat dua titik krusial yang memicu keretakan kerja sama ini:

  • Penyematan Nama (Naming Rights) Sebagai Jariyah: BIP Foundation memegang teguh kebijakan internal bahwa fasilitas yang pembangunannya dibiayai penuh (100 persen) oleh yayasan disarankan menyematkan nama mendiang orang tua Bang Ali (Ainun dan Umar Syarif) sebagai wujud dedikasi bakti anak. Di sisi lain, pihak Griya Lansia menganggap persyaratan ini tidak selaras dengan Standar Operasional Prosedur (SOP) internal mereka, hingga akhirnya mereka sendiri yang mengajukan pembatalan bantuan.
  • Format Bantuan (Material vs. Dana Segar): Sejak bergulirnya program BIP Tour D’Jatim, komitmen bantuan Rp2 miliar ini dirancang dalam bentuk pembangunan fisik bertahap serta pengadaan barang material secara langsung. Bang Ali mengaku terkejut ketika di tengah proses berjalan, pihak penerima justru meminta nomor rekening untuk transfer dana segar.

Bagi Bang Ali, penamaan infrastruktur sosial dengan nama orang tuanya bukanlah upaya mengejar panggung publisitas, melainkan bagian dari spiritualitas murni. Nama yayasannya sendiri, BANI, memiliki kepanjangan filosofis: Bakti Anak Nurani Ibu.

Jejak spiritual ini sejatinya telah berdiri tegak tanpa masalah di berbagai daerah Jawa Barat dan Jawa Timur. Mulai dari Istana Tahfidz Ainun Bani di Majalengka, Dapur Ainun di Cirebon, Asrama Tahfidz Ainun Bani di Sidoarjo, Masjid BANI di Lamongan, Asrama Umar Syarif di Malang, hingga Mushalla Ainun Bani di Sumenep.

Kendati kerja sama kali ini harus kandas di tengah jalan, H. Ali Zainal Abidin memilih menyikapinya dengan kepala dingin tanpa ingin merusak hubungan personal. Ia menegaskan tetap menaruh rasa hormat yang tinggi kepada Ketua Yayasan Griya Lansia, Arif Camra, yang ia anggap sebagai salah satu gurunya.

Bang Ali pun mengimbau kepada seluruh relawan dan pengurus LBH BIP agar tidak larut dalam polemik publik, melainkan kembali fokus melanjutkan misi kemanusiaan di tempat lain yang membutuhkan ketulusan gerak mereka.

Bagikan Disalin