Dr. Hj. Erliyati Sebut Kepatuhan Penggunaan APD dan Hand Hygiene Jadi Kunci Mutu RSUD dr. H. Moh. Anwar SumenepREPORTASE NEWS, Sumenep – Angka-angka statistik rumah sakit sering kali dianggap kering dan membosankan, namun RSUD dr. H. Moh. Anwar Sumenep berhasil mengubahnya menjadi sebuah narasi akuntabilitas yang impresif. Alih-alih menyajikan klaim sepihak tentang pelayanan prima, manajemen rumah sakit milik Pemkab Sumenep ini memilih membuka lebar dasbor operasional medis mereka ke hadapan publik.
Berdasarkan rilis indikator mutu resmi sepanjang Semester I 2026 yang dianalisis pada Selasa (14/07/2026), rumah sakit ini menunjukkan tren performa klinis yang sangat stabil, dengan titik sorot utama pada efisiensi ruang farmasi dan protokol ketat keselamatan pasien rawat inap.
Memasuki Triwulan II (April–Juni 2026), performa operasional RSUD dr. H. Moh. Anwar berada dalam jalur yang sangat dinamis. Unit farmasi berhasil mencatatkan rekor waktu tunggu pelayanan obat yang sangat kompetitif, di mana rata-rata waktu penyediaan obat racikan berhasil dipangkas menjadi hanya 18,45 menit, sedangkan untuk obat non-racikan tercatat 26,32 menit.
Di sisi lain, presisi penjadwalan tindakan operasi di ruang bedah juga menunjukkan performa luar biasa dengan tingkat ketepatan jadwal mencapai 92,67 persen.
Metrik Kepatuhan Klinis & Pengaduan (April–Juni 2026)
Capaian impresif pada pertengahan tahun ini merupakan kelanjutan dari kestabilan sistem pelayanan yang telah dibangun sejak Triwulan I (Januari–Maret 2026). Pada kuartal pertama tersebut, kepatuhan kebersihan tangan (hand hygiene) petugas berada di angka tinggi 96,34 persen. Keamanan laboratorium juga terjaga dengan persentase penolakan spesimen yang sangat minim, yaitu hanya 1,42 persen.
Direktur RSUD dr. H. Moh. Anwar Sumenep, dr. Hj. Erliyati, menegaskan bahwa keterbukaan data mutu ini adalah bukti bahwa rumah sakit tidak sedang menyembunyikan kelemahan, melainkan terus menantang diri untuk lebih baik.
“Melalui pemantauan indikator mutu rumah sakit, kami terus melakukan evaluasi dan perbaikan berkelanjutan untuk meningkatkan kualitas pelayanan, keselamatan serta kepuasan masyarakat,” ujar dr. Hj. Erliyati secara lugas.
Bagi manajemen, setiap fluktuasi angka merupakan bahan bakar evaluasi berkala untuk menghadirkan pelayanan kesehatan yang aman dan berorientasi penuh pada pasien.