Makna Historis di Balik Kirab Hasil Bumi: Upaya Pemdes Selokajang Blitar Jaga Situs Punden Leluhur.REPORTASE NEWS, Blitar – Jalanan Desa Selokajang, Kecamatan Srengat, Kabupaten Blitar, mendadak berubah menjadi lautan manusia pada Selasa (7/7). Ribuan warga tumpah ruah dengan antusiasme tinggi untuk menyemarakkan iring-iringan Kirab Budaya Sedekah Bumi.
Acara tahunan ini digelar sebagai bentuk rasa syukur kolektif atas limpahan hasil panen dan keberkahan dari Tuhan Yang Maha Esa.
Momentum kirab kali ini terasa sangat sakral karena dilaksanakan bertepatan dengan Bulan Suro, bulan yang penuh makna dan nilai spiritual dalam tradisi masyarakat Jawa.
Kemeriahan kirab diawali dengan parade barisan pemuda dan pemudi desa. Mereka dengan bangga mengarak gunungan hasil bumi yang dihias sedemikian rupa, melambangkan kekayaan alam serta kesejahteraan yang dinikmati warga Selokajang.
“Acara ini bukan sekadar pesta, tapi bentuk pelestarian budaya dan rasa syukur kita kepada alam serta leluhur,” ujar salah satu warga di lokasi dengan penuh semangat.
Kegiatan ini dihadiri langsung oleh Kepala Desa Selokajang, Bapak Sujarwa, beserta seluruh jajaran perangkat desa yang membaur bersama warga. Kehadiran para tokoh pinisepuh desa, tokoh masyarakat, hingga elemen kepemudaan membuat suasana semakin guyub. Tidak hanya menjadi ajang budaya, acara ini juga membawa berkah ekonomi bagi puluhan pedagang kaki lima yang ikut mengais rezeki di sepanjang rute kirab.
Puncak pawai budaya ini berakhir di Punden Raden Mas Suryo Di Atmojo, sebuah situs yang memiliki nilai historis mendalam bagi masyarakat setempat.
Tokoh Sejarah: Raden Mas Suryo Di Atmojo
Peran bagi Desa: Tokoh pertama yang membabat hutan (babat alas) dan membuka lahan menjadi pemukiman.
Prosesi di punden ini menjadi simbol penghormatan kepada leluhur sekaligus ruang doa bersama agar Desa Selokajang tetap lestari, aman, dan warganya selalu dilimpahi keberkahan.
Hingga acara usai, semangat kebersamaan dan kekeluargaan yang kental begitu terasa, memperkokoh tali persaudaraan antarwarga desa.