BLITAR – Suasana khidmat menyelimuti kawasan Pepundem Makam Mbah Ronggo, Kamis (16/4/2026). Ratusan warga Dusun Semanding, Desa Kotes, Kecamatan Gandusari, berkumpul untuk melaksanakan tradisi Nyadran sebagai bagian dari rangkaian ritual tahunan Bersih Dusun.
Kegiatan ini menjadi pembuka menuju puncak acara yang digelar melalui Kirab Budaya pada Minggu (19/4/2026).
Bagi masyarakat setempat, sosok Mbah Ronggo dikenal sebagai pambuka desa, yakni tokoh yang pertama kali membuka hutan (babat alas) hingga berdirinya Dusun Semanding.
Tradisi Nyadran yang digelar di makam tersebut bukan sekadar ritual, melainkan bentuk penghormatan dan rasa syukur atas jasa para pendahulu.

Rangkaian kegiatan diisi dengan doa bersama dan tabur bunga yang diikuti warga sejak pagi hari.
“Ini adalah cara kami menyambung sejarah. Tanpa perjuangan Mbah Ronggo, Dusun Semanding tidak akan ada,” ujar salah satu tokoh masyarakat.
Kemeriahan tradisi berlanjut pada Minggu (19/4/2026) melalui Kirab Budaya Dusun Semanding. Seluruh lapisan masyarakat, mulai dari anak-anak hingga lansia, turut ambil bagian dalam arak-arakan budaya.
Warga mengenakan pakaian adat dan membawa berbagai hasil bumi sebagai simbol rasa syukur.
Salah satu daya tarik utama dalam kirab ini adalah gunungan hasil pertanian yang melambangkan kesuburan tanah serta kemakmuran masyarakat.
Secara administratif, kegiatan berlangsung pada April 2026. Namun secara adat, pelaksanaannya mengikuti penanggalan Jawa.
Tradisi Bersih Dusun Semanding wajib dilaksanakan setiap tahun pada Bulan Selo, tepatnya pada hari Senin Pahing. Hari tersebut dipercaya sebagai waktu yang baik untuk memanjatkan doa keselamatan dan menolak bala.
Kepala Desa Kotes, Maryana, SE, mengapresiasi kekompakan warga dalam menyelenggarakan kegiatan tersebut.
Ia menyebut, seluruh rangkaian acara terlaksana berkat swadaya masyarakat dan semangat kebersamaan yang masih kuat.
“Kirab ini bukan sekadar tontonan, tetapi juga tuntunan. Nilai gotong royong masih terjaga dan harus terus diwariskan kepada generasi muda,” ujarnya.
Ia berharap tradisi ini tetap dilestarikan sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat Dusun Semanding.






