TRENDING
MENU

Dosen dan Mahasiswa UNUSA Dorong Guru PAUD Adaptif di Era Digital Berbasis Kearifan Lokal

4 menit membaca
Redaksi

Surabaya — Perkembangan teknologi digital mendorong dunia Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) untuk terus beradaptasi. Namun, pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran anak usia dini dinilai perlu tetap mempertimbangkan karakteristik anak yang membutuhkan aktivitas bermain, pengalaman konkret, interaksi sosial, serta kedekatan dengan lingkungan dan budaya lokal.

Hal tersebut menjadi perhatian tim Pengabdian kepada Masyarakat yang diketuai Dr. Berda Asmara, S.Pd., M.Pd., dosen Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA). Bersama dosen dan mahasiswa, tim tersebut melaksanakan kegiatan bertajuk “Pelatihan Pembelajaran PAUD Adaptif Era Digital dan Pemanfaatan Media Teknologi Berbasis Kearifan Lokal di Lembaga PAUD.”

Kegiatan tersebut diarahkan untuk memperkuat kemampuan guru dalam memilih dan memanfaatkan teknologi sebagai pendukung proses pembelajaran, tanpa menghilangkan pendekatan yang sesuai dengan kebutuhan perkembangan anak usia dini.

Teknologi Bukan Pengganti Aktivitas Bermain

Ketua Tim Pengabdian, Dr. Berda Asmara, menegaskan bahwa adaptasi terhadap teknologi tidak berarti seluruh kegiatan pembelajaran anak harus dialihkan ke perangkat digital.

“PAUD adaptif di era digital bukan berarti memindahkan seluruh aktivitas belajar anak ke layar atau perangkat digital. Teknologi harus kita tempatkan sebagai media pendukung yang membantu guru menciptakan pembelajaran yang lebih kreatif dan bermakna,” ujar Berda.

Menurutnya, anak tetap membutuhkan aktivitas bermain, bergerak, berinteraksi, bereksplorasi, serta memperoleh pengalaman langsung dari lingkungan sekitar.

BACA JUGA  Polda Jatim Tangkap Tersangka Ketiga Kasus Perusakan Rumah dan Pengusiran Nenek Elina

Karena itu, guru perlu mempertimbangkan sejumlah aspek sebelum menggunakan teknologi dalam pembelajaran, antara lain kesesuaian media dengan usia dan perkembangan anak, tujuan pembelajaran, keamanan, kemudahan akses, serta manfaat yang dapat diperoleh anak.

Pendekatan tersebut menempatkan transformasi digital bukan sekadar pada penggunaan perangkat atau aplikasi, tetapi pada kemampuan guru merancang pengalaman belajar yang relevan dengan perkembangan zaman.

Kearifan Lokal Jadi Sumber Pembelajaran

Selain teknologi, kegiatan tersebut juga menekankan pentingnya kearifan lokal sebagai bagian dari sumber belajar PAUD.

Guru didorong untuk memanfaatkan berbagai potensi yang berada di sekitar anak, seperti cerita lokal, permainan tradisional, bahasa, kesenian, makanan khas, lingkungan alam, kebiasaan masyarakat, serta nilai-nilai positif dalam kehidupan sosial.

Berbagai potensi tersebut kemudian dapat dikombinasikan dengan media teknologi untuk menghasilkan materi pembelajaran yang lebih dekat dengan kehidupan anak.

BACA JUGA  Kelola Rp195 Juta Tanpa Kontraktor, Tengok Cara Petani Desa Dayu Blitar Bangun Irigasi Mandiri

Berda menilai perkembangan teknologi tidak semestinya membuat anak kehilangan hubungan dengan lingkungan dan budaya tempat mereka tumbuh.

“Anak-anak kita tumbuh di tengah perkembangan teknologi yang sangat cepat. Tugas pendidikan bukan menjauhkan mereka dari teknologi, tetapi mendampingi mereka menggunakannya dengan tepat,” jelasnya.

Ia menambahkan, anak juga perlu tetap mengenal lingkungan, budaya, nilai, dan kearifan lokal yang menjadi bagian dari identitas mereka.

Dengan pendekatan tersebut, pembelajaran diharapkan tidak hanya mengikuti perkembangan teknologi dari sisi media, tetapi juga tetap memiliki keterkaitan dengan kehidupan dan budaya anak.

Guru Terlibat dalam Diskusi dan Berbagi Pengalaman

Pelatihan yang berlangsung di TK Ma’arif NU Baitussalam dan TK Taman Sari dilaksanakan secara interaktif dan partisipatif.

Para guru tidak hanya menerima materi, tetapi juga mengikuti diskusi, tanya jawab, serta berbagi pengalaman mengenai tantangan yang mereka hadapi dalam proses pembelajaran.

Perbedaan kondisi dan kemampuan setiap lembaga PAUD dalam mengakses teknologi turut menjadi bagian pembahasan. Karena itu, inovasi pembelajaran ditekankan tidak harus bergantung pada perangkat yang mahal maupun metode yang rumit.

Guru dapat memanfaatkan perangkat yang telah tersedia dan menggabungkannya dengan kreativitas serta potensi lingkungan sekitar sebagai sumber pembelajaran.

BACA JUGA  Upaya Pendampingan Babinsa Labruk Kidul dalam Penyemprotan dan Penyiangan Gulma Lahan Padi di Poktan Pule Makmur

Dalam kegiatan tersebut juga ditekankan bahwa guru tetap menjadi aktor utama dalam menentukan kualitas pembelajaran. Teknologi ditempatkan sebagai sarana pendukung dan bukan pengganti peran pendidik.

Mahasiswa Peroleh Pengalaman di Lapangan

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat tersebut turut melibatkan mahasiswa. Selain membantu pelaksanaan kegiatan, keterlibatan mahasiswa menjadi kesempatan untuk memperoleh pengalaman langsung berinteraksi dengan masyarakat.

Mahasiswa berinteraksi dengan pendidik PAUD, mengamati kondisi lembaga, sekaligus memahami kebutuhan dan tantangan yang dihadapi guru dalam pembelajaran.

Keterlibatan tersebut juga menjadi ruang untuk menghubungkan pembelajaran akademik di perguruan tinggi dengan kondisi nyata di masyarakat.

Kolaborasi antara dosen, mahasiswa, dan lembaga PAUD diharapkan dapat memperkuat hubungan antara perguruan tinggi dan masyarakat. Perguruan tinggi dapat berkontribusi melalui pengetahuan, penelitian, dan inovasi, sementara lembaga PAUD memberikan gambaran mengenai kebutuhan pendidikan di lapangan.

Pada akhirnya, pemanfaatan teknologi dalam pendidikan PAUD tidak hanya berkaitan dengan seberapa banyak perangkat digital yang digunakan. Tantangan utamanya adalah bagaimana teknologi dimanfaatkan secara tepat untuk memperkaya pengalaman belajar anak, sekaligus menjaga kedekatan mereka dengan lingkungan, interaksi sosial, dan kearifan lokal.

(rn-ha)

Bagikan Disalin