
Surabaya — Pencegahan stunting tidak hanya bergantung pada penanganan ketika kasus telah ditemukan, tetapi juga membutuhkan edukasi dan peningkatan kesadaran masyarakat sejak dini. Hal tersebut menjadi perhatian mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA) Kelompok 9 melalui program edukasi kesehatan di RW 07, Kelurahan Krembangan Utara, Surabaya.
Melalui program bertajuk “Optimalisasi Media Edukasi Pojok Stunting”, mahasiswa menghadirkan ruang informasi yang memuat berbagai materi kesehatan dengan konsep sederhana, menarik, dan mudah diakses warga. Program ini dilaksanakan sebagai langkah preventif untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai gizi, kesehatan ibu dan anak, serta tumbuh kembang balita.
Hingga pelaksanaan program, mahasiswa mencatat belum ditemukan kasus stunting di wilayah RW 07. Kondisi tersebut justru menjadi momentum untuk memperkuat upaya pencegahan agar kesadaran kesehatan masyarakat tetap terjaga.
Pojok Stunting menyediakan informasi mengenai pengertian dan faktor penyebab stunting, pentingnya 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), penerapan konsep Isi Piringku, pola hidup sehat, hingga jadwal kegiatan Posyandu.
Tidak berhenti pada media informasi konvensional, mahasiswa juga menambahkan barcode yang dapat dipindai menggunakan telepon genggam. Fitur tersebut memungkinkan warga mengakses informasi kesehatan secara digital sehingga materi edukasi dapat dijangkau dengan lebih praktis.
Program diawali dengan observasi dan pemetaan kebutuhan masyarakat. Tahapan tersebut dilanjutkan dengan penyusunan materi, pembuatan media edukasi, serta penyampaian informasi kepada warga dengan melibatkan kader kesehatan setempat.
Keterlibatan kader dan masyarakat menjadi bagian penting dalam pelaksanaan program. Kolaborasi tersebut diharapkan membuat informasi yang diberikan tidak hanya dipahami, tetapi juga dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Mahasiswa KKN UNUSA Kelompok 9 menilai pencegahan stunting perlu dilakukan secara berkelanjutan dan tidak menunggu sampai persoalan muncul. Pengetahuan mengenai pemenuhan gizi, kesehatan ibu, serta pemantauan tumbuh kembang anak menjadi bagian penting dalam membangun fondasi kesehatan generasi mendatang.
Kehadiran Pojok Stunting di RW 07 diharapkan dapat menjadi sarana informasi yang terus dimanfaatkan masyarakat, sekaligus mendorong keterlibatan keluarga dalam menjaga kesehatan ibu dan anak.
Program tersebut juga memperlihatkan bahwa edukasi kesehatan berbasis masyarakat dapat dilakukan melalui langkah sederhana dengan memanfaatkan media yang mudah dipahami dan teknologi digital yang dekat dengan keseharian warga.
Melalui semangat “cegah sebelum terjadi”, KKN UNUSA Kelompok 9 berupaya memperkuat kesadaran bahwa pencegahan stunting merupakan tanggung jawab bersama. Keluarga, kader kesehatan, masyarakat, dan berbagai pihak memiliki peran dalam memastikan anak memperoleh asupan gizi serta lingkungan yang mendukung tumbuh kembang secara optimal.
(rn-ha)