MENU

PBI UNUSA Tanamkan Nilai Anti-Perundungan bagi Anak melalui Edukasi Boneka Puppet

3 menit membaca
Handono

Surabaya — Upaya membangun lingkungan pendidikan yang inklusif terus dilakukan sejak usia dini. Program Studi S1 Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA) menggelar kegiatan pengabdian kepada masyarakat bertema pencegahan perundungan terhadap anak berkebutuhan khusus (ABK) di Rusun Indrapura, Kelurahan Tanjung Perak, Surabaya, Kamis (11/6/2026).

Kegiatan yang mengangkat edukasi sikap anti-perundungan tersebut diikuti sekitar 130 peserta, terdiri atas anak-anak dan wali murid dari 11 Pos PAUD Terpadu (PPT) se-Kelurahan Tanjung Perak.

Program ini dipimpin Dr. Tiyas Saputri, S.S., M.Pd. sebagai ketua pelaksana. Sejumlah unsur pemerintahan dan pendidikan setempat turut hadir, di antaranya Camat Pabean Cantian, Lurah Tanjung Perak, Bunda PAUD Kecamatan Pabean Cantian, Bunda PAUD Kelurahan Tanjung Perak Ny. Dwi Ratna Wijayanti, serta pendidik dan tokoh masyarakat.

BACA JUGA  Tanamkan Budaya Integritas Sejak Dini, SMP UMI Sundari Sidomukti Kraksaan Gelar Edukasi Antikorupsi

PBI UNUSA menggunakan pendekatan yang dekat dengan dunia anak untuk menyampaikan pesan mengenai empati, toleransi, penghargaan terhadap perbedaan, serta pentingnya menghentikan perilaku perundungan.

“Kami berharap kegiatan ini dapat menumbuhkan empati dan kepedulian anak terhadap teman-temannya, termasuk anak berkebutuhan khusus,” ujar Dr. Tiyas Saputri.

Menurutnya, pengenalan nilai anti-perundungan tidak harus menunggu anak memasuki usia sekolah dasar. Pemahaman mengenai cara menghargai orang lain dan menerima perbedaan justru dapat mulai dibangun melalui pengalaman sederhana yang sesuai dengan perkembangan anak.

Boneka Puppet Jadi Media Edukasi

Salah satu pendekatan yang digunakan dalam kegiatan tersebut adalah pertunjukan boneka puppet. Media ini dimanfaatkan untuk menyampaikan pesan tentang perundungan melalui cerita, percakapan antarkarakter, serta situasi yang mudah dikenali anak.

BACA JUGA  Dandim 0820 Probolinggo Pimpin Apel Kehormatan dan Renungan Suci

Melalui metode tersebut, peserta diajak memahami bahwa mengejek, menyakiti, mengucilkan, atau memperlakukan seseorang secara tidak adil karena perbedaan kondisi merupakan perilaku yang perlu dihindari.

Penggunaan boneka puppet juga membuat proses edukasi berlangsung lebih interaktif. Anak-anak tidak hanya menjadi pendengar, tetapi dilibatkan dalam percakapan dan aktivitas yang berkaitan dengan tema Stop Bullying.

Peserta anak kemudian dibagi dalam kelompok dengan mempertimbangkan kebutuhan masing-masing, termasuk kelompok anak reguler dan anak berkebutuhan khusus. Pendekatan tersebut diarahkan agar setiap peserta memperoleh ruang untuk mengikuti kegiatan secara nyaman dan optimal.

Antusiasme terlihat ketika anak-anak mengikuti pertunjukan serta aktivitas edukatif yang disiapkan panitia. Pesan mengenai pentingnya menghormati teman, tidak melakukan ejekan maupun tindakan menyakiti, serta berani menunjukkan kepedulian disampaikan melalui aktivitas yang bersifat menyenangkan.

BACA JUGA  14 Tahun Terbunuhnya Munir, Polri Didesak Bentuk Tim Khusus

Libatkan Orang Tua dan Pendidik

Upaya pencegahan perundungan dalam kegiatan tersebut tidak hanya diarahkan kepada anak. Wali murid dan pendidik PAUD juga dilibatkan sebagai bagian dari lingkungan terdekat yang berperan dalam membentuk perilaku dan karakter anak.

Kolaborasi antara keluarga, satuan pendidikan, dan masyarakat dinilai penting untuk menciptakan lingkungan yang aman serta memberikan ruang yang setara bagi anak dengan beragam kondisi dan kemampuan.

Melalui kegiatan pengabdian tersebut, PBI UNUSA mendorong agar nilai empati, toleransi, dan penghargaan terhadap perbedaan tidak berhenti sebagai materi kegiatan, tetapi diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Pendidikan anti-perundungan sejak usia dini diharapkan dapat menjadi salah satu fondasi terbentuknya lingkungan PAUD yang lebih ramah, inklusif, dan bebas dari diskriminasi terhadap anak berkebutuhan khusus.

(rn-ha)

Bagikan Disalin