MENU

Angin Gending Kembali Menerjang Probolinggo, Kecepatan Capai 45 Km/Jam, BPBD Imbau Masyarakat Tingkatkan Kewaspadaan

2 menit membaca
Redaksi

PROBOLINGGO – Fenomena angin Gending kembali terjadi di wilayah Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, dengan kecepatan angin mencapai sekitar 45 kilometer per jam. Berdasarkan pemantauan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Probolinggo, fenomena yang mulai terasa pada awal Juli 2026 ini diperkirakan masih berpotensi berlangsung hingga September 2026 seiring berlangsungnya musim kemarau.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Probolinggo, Oemar Sjarief, menjelaskan bahwa angin Gending merupakan fenomena meteorologi yang terjadi secara musiman akibat perbedaan tekanan udara antara Benua Australia dan Benua Asia. Kondisi tersebut memicu aliran massa udara dari kawasan Pegunungan Argopuro menuju wilayah pesisir Probolinggo.

“Fenomena ini merupakan siklus tahunan yang terjadi pada musim kemarau. Perbedaan tekanan udara menyebabkan angin bertiup cukup kencang dari kawasan pegunungan menuju pesisir,” ujar Oemar, Rabu (1/7/2026).

Menurutnya, karakteristik angin Gending pada tahun ini masih berada dalam kategori yang perlu diwaspadai, terutama bagi masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan maupun pengguna jalan.

“Kecepatan angin dapat memengaruhi keselamatan, terutama apabila disertai debu, ranting pohon, atau benda-benda ringan yang mudah terbawa angin. Karena itu masyarakat kami minta tetap berhati-hati,” katanya.

Hasil pemantauan di sejumlah wilayah menunjukkan hembusan angin menyebabkan daun-daun berguguran, debu beterbangan, serta menurunkan jarak pandang di beberapa ruas jalan. Kondisi tersebut berpotensi mengganggu aktivitas masyarakat apabila intensitas angin meningkat.

BACA JUGA  Vega Alvian, Pemuda Tengger yang Konsisten Mengangkat Budaya Lokal hingga Berprestasi di Ajang Nasional

Selain dampak fisik akibat hembusan angin, BPBD juga mengingatkan adanya peningkatan suhu udara selama musim kemarau yang berpotensi memicu berbagai persoalan kesehatan. Salah satunya adalah meningkatnya risiko penyakit yang ditularkan melalui nyamuk, termasuk chikungunya, sebagaimana pernah terjadi di sejumlah wilayah Kabupaten Probolinggo pada tahun-tahun sebelumnya.

“Perubahan cuaca dan suhu yang lebih panas perlu diantisipasi bersama. Masyarakat diharapkan menjaga kebersihan lingkungan agar tidak menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk,” tambah Oemar.

Di sisi lain, musim kemarau juga mulai berdampak terhadap ketersediaan air bersih. Pemerintah Kabupaten Probolinggo mencatat sedikitnya 14 kecamatan berpotensi mengalami kekurangan pasokan air bersih, di antaranya Kecamatan Tongas, Sukapura, Lumbang, Sumber, Kuripan, Krucil, Kotaanyar, Paiton, Tegalsiwalan, Tiris, Pakuniran, Wonomerto, serta beberapa wilayah lain yang rawan kekeringan.

BACA JUGA  Kapolri Kenang Marsinah sebagai Simbol Perjuangan Buruh, Museum Diresmikan 1 Mei 2026

Pemerintah daerah melalui BPBD bersama organisasi perangkat daerah terkait terus meningkatkan pemantauan kondisi cuaca, melakukan koordinasi lintas sektor, serta menyiapkan langkah-langkah mitigasi apabila dampak angin Gending maupun kekeringan semakin meluas.

BACA JUGA  Yek Mus Pimpin Aksi Damai, Tegaskan Komitmen Jaga Kondusivitas Kabupaten Probolinggo

Masyarakat diimbau untuk memangkas ranting pohon yang berpotensi membahayakan, mengamankan benda-benda ringan di sekitar rumah, mengurangi aktivitas di ruang terbuka saat angin bertiup kencang, menjaga kebersihan lingkungan, serta menggunakan air bersih secara bijaksana selama musim kemarau berlangsung. (rn-sa)

Bagikan Disalin