
SURABAYA — Penguatan kompetensi guru menjadi salah satu fokus dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang digelar di SDN Bendul Merisi 408 Surabaya. Kegiatan bertajuk “Pelatihan dan Pendampingan Guru SDN Bendul Merisi Surabaya dalam Menerapkan Project Based Learning untuk Meningkatkan Keterampilan Menulis dan Berpikir Kritis Siswa” berlangsung pada Rabu, 8 Juli 2026.
Pelatihan tersebut diikuti para guru SDN Bendul Merisi Surabaya dengan menghadirkan Prof. Dr. H. Syamsul Ghufron, M.Si. dan Dr. Rudi Umar Susanto, M.Pd. sebagai narasumber sekaligus fasilitator.
Materi pelatihan menempatkan Project Based Learning (PjBL) sebagai pendekatan pembelajaran yang dapat mengubah kegiatan menulis dari sekadar tugas menjadi proses belajar yang menghasilkan karya. Dalam pendekatan tersebut, guru diarahkan menjalankan peran sebagai fasilitator, motivator, pembimbing, sekaligus pemberi umpan balik.
Berangkat dari Persoalan Pembelajaran Menulis
Pelatihan diawali dengan refleksi terhadap sejumlah persoalan yang ditemukan dalam pembelajaran menulis. Materi menyebutkan tulisan siswa masih cenderung pendek, sebagian siswa mengalami kesulitan ketika memulai tulisan, serta munculnya kejenuhan dalam kegiatan menulis.
Materi pelatihan juga menempatkan persoalan tersebut dalam konteks pengalaman belajar siswa. Kesulitan menulis tidak hanya dikaitkan dengan kemauan siswa, tetapi juga dengan keterbatasan pengalaman, tujuan, pembaca, serta alasan yang bermakna untuk menghasilkan tulisan.
Hasil observasi yang menjadi pijakan kegiatan turut mengidentifikasi pembelajaran yang masih cenderung konvensional, kesulitan siswa memulai tulisan, belum tersedianya perangkat PjBL bagi guru, serta perlunya penguatan motivasi menulis siswa.
Dari kondisi tersebut, peserta diarahkan memahami bahwa peningkatan keterampilan menulis tidak hanya dilakukan dengan menambah tugas. Pengalaman belajar melalui proyek yang bermakna menjadi pendekatan yang diperkenalkan dalam pelatihan.
Menulis Melalui Proyek dan Karya Nyata
Dalam pelatihan, PjBL diperkenalkan sebagai pembelajaran yang dimulai dari masalah, dilaksanakan melalui proyek, menghasilkan produk nyata, kemudian dipresentasikan kepada orang lain.
Salah satu contoh yang diberikan adalah mengubah instruksi sederhana “Tulislah pengalamanmu” menjadi proyek yang lebih kontekstual, seperti Mari membuat Buku Cerita SDN Bendul Merisi.
Melalui proyek tersebut, kegiatan menulis diarahkan tidak hanya untuk menghasilkan teks. Siswa juga mendapat ruang untuk bekerja sama, mengembangkan gagasan, berpikir kritis, menghasilkan karya, dan menulis dengan mempertimbangkan pembaca.
Pelatihan juga membahas tahapan PjBL yang dapat digunakan dalam pembelajaran, mulai dari menentukan masalah, menyusun pertanyaan, merancang proyek, melaksanakan proyek, menyusun produk, mempresentasikan hasil, hingga melakukan refleksi.
Sementara dalam proses menulis, guru diperkenalkan pada tahapan pramenulis, penyusunan draf, revisi, editing, dan publikasi. Tahapan tersebut menempatkan menulis sebagai proses yang memungkinkan siswa mengembangkan serta memperbaiki gagasan secara bertahap.
Guru Berlatih Menyusun Perangkat Pembelajaran
Kegiatan tidak hanya berisi penyampaian materi. Para guru juga mengikuti workshop untuk merancang penerapan PjBL di kelas.
Dalam workshop tersebut, guru diarahkan menentukan proyek menulis, menyusun pertanyaan mendasar, membuat modul ajar berbasis PjBL, mengembangkan LKPD berbasis proyek, serta menyiapkan rubrik penilaian.
Sejumlah alternatif proyek menulis yang diperkenalkan antara lain buku cerita, majalah kelas, buku wisata sekolah, buku tanaman sekolah, buku tokoh inspiratif, dan ensiklopedia mini.
Target implementasi yang dirancang dalam pelatihan adalah setiap guru menghasilkan satu paket pembelajaran berbasis proyek. Paket tersebut terdiri atas satu proyek menulis, satu modul ajar, satu LKPD, satu rubrik penilaian, serta satu buku atau karya tulis sebagai produk akhir peserta didik.
Karya Siswa Diarahkan untuk Dipublikasikan
Pelatihan juga memberikan perhatian pada publikasi karya siswa. Hasil tulisan tidak hanya diarahkan untuk menjadi bahan penilaian guru, tetapi dapat dikembangkan menjadi buku antologi karya siswa, majalah kelas atau sekolah, blog sekolah, maupun perpustakaan digital.
Dengan adanya pembaca yang nyata, aktivitas menulis diharapkan memiliki tujuan yang lebih jelas bagi peserta didik. Siswa mendapatkan pengalaman bahwa tulisan yang dibuat dapat menjadi karya yang dibaca dan diapresiasi oleh orang lain.
Sebagai tindak lanjut, para guru diharapkan mulai menerapkan PjBL dalam pembelajaran di kelas masing-masing pada minggu berikutnya dengan menggunakan perangkat yang telah disusun selama pelatihan.
Langkah tersebut dirancang agar kegiatan tidak berhenti pada workshop, tetapi berlanjut pada penerapan pembelajaran di sekolah.
Melalui pelatihan dan pendampingan tersebut, pembelajaran menulis di SDN Bendul Merisi Surabaya diarahkan untuk memberikan pengalaman belajar yang lebih kontekstual dan berorientasi pada karya.
Pesan penutup dalam materi pelatihan menekankan bahwa keberhasilan pembelajaran menulis tidak hanya berkaitan dengan jumlah tugas yang diberikan kepada siswa, tetapi juga kesempatan untuk menghasilkan karya yang bermakna.
Melalui Project Based Learning, siswa diarahkan untuk tidak sekadar belajar menulis, tetapi juga mengalami proses menghasilkan karya yang dapat dibaca dan dimanfaatkan oleh orang lain.
Kontributor: Tim Pengabdian kepada Masyarakat SDN Bendul Merisi Surabaya — 8 Juli 2026
(rn-ha)
