SUMENEP — Dari pesisir Madura, tepatnya di Kabupaten Sumenep, komoditas garam lokal kini menunjukkan lonjakan kualitas yang signifikan. Produk garam beryodium bermerek “Garam Mulya” berhasil menembus kategori premium atau dikenal sebagai “KW satu”.
Diproduksi oleh PT Mulya Anugrah Sumekar yang berlokasi di kawasan Kalianget Barat, capaian ini menjadi bukti bahwa produk lokal mampu naik kelas dan bersaing di pasar yang lebih luas, termasuk sektor industri.
Predikat premium yang disematkan bukan tanpa alasan. Proses produksi dilakukan dengan standar seleksi yang ketat dan sistem pengolahan higienis. Hasilnya, garam memiliki tingkat kemurnian tinggi, tekstur lebih halus, serta kandungan yodium yang sesuai dengan standar kesehatan nasional.
Direktur Utama perusahaan, Molyadi, menegaskan bahwa peningkatan mutu merupakan bagian dari komitmen jangka panjang perusahaan.
“Ini bukan sekadar produksi, tetapi bagaimana menjaga kualitas dari awal hingga akhir. Kami ingin garam lokal memiliki daya saing tinggi,” ujarnya.
Label “KW satu” menjadi indikator kualitas tertinggi dalam klasifikasi garam konsumsi. Dengan capaian tersebut, “Garam Mulya” tidak hanya memenuhi kebutuhan rumah tangga, tetapi juga mulai dilirik untuk kebutuhan industri yang memerlukan bahan baku berkualitas tinggi.
Hal ini membuka peluang baru bagi garam lokal untuk menembus pasar yang selama ini didominasi produk dari luar daerah bahkan impor.
Transformasi kualitas ini juga berdampak langsung terhadap perekonomian masyarakat pesisir. Kehadiran industri pengolahan garam modern mendorong peningkatan kesejahteraan petani garam serta membuka lapangan kerja baru di wilayah sekitar.
Dengan demikian, garam tidak lagi dipandang sebagai komoditas tradisional semata, tetapi telah berkembang menjadi produk bernilai tambah tinggi yang mampu menggerakkan ekonomi lokal.
Keberhasilan ini menjadi sinyal positif bahwa potensi sumber daya alam daerah, jika dikelola dengan baik, mampu bersaing di tingkat nasional bahkan global.
Dari pesisir Sumenep, garam kini bukan sekadar hasil tambak, melainkan simbol kebangkitan industri lokal yang siap bersinar di pasar yang lebih luas.






