Aktivis Bajingan

IMG 4167 scaled
Oleh : Fauzi AS

Aktivis bajingan adalah mereka yang berbaju aktivis, namun justru “membunuh” petani tembakau dan industri kecil di Madura. Belakangan, ada satu jenis suara yang paling bising: aktivis yang berbicara tanpa pijakan pada tanah kelahirannya, didukung media, dan menulis tanpa data di tangannya.

Mereka berdiri di podium dengan nada moral paling tinggi, lalu dengan ringan menyebut Madura sebagai “lumbung rokok ilegal”.

Kalimat itu mungkin terdengar gagah di ruang seminar. Namun di desa-desa kami, kalimat itu adalah peluru. Itu bukan kritik, melainkan stempel. Bukan analisis, melainkan vonis. Dan seperti biasa, yang ditembak bukan sistem—yang mati perlahan adalah petani tembakau dan industri rakyat.

Madura bukan pabrik gelap seperti yang mereka bayangkan dalam laporan setengah matang. Madura adalah rumah: tempat orang-orang menanam tembakau dengan harapan sederhana—dapur tetap menyala, anak tetap sekolah, dan hidup tidak runtuh oleh kebijakan yang tak pernah benar-benar berpihak.

Lalu, apa yang dilakukan “aktivis” ini?

Ia datang, menunjuk, melapor, lalu pergi—seperti pemadam kebakaran yang justru membawa bensin.

Kita tidak menutup mata: rokok ilegal itu ada. Tidak ada orang waras yang membenarkan pelanggaran hukum. Namun, yang lebih tidak waras adalah membangun narasi seolah-olah rokok ilegal lahir semata dari keserakahan, tanpa pernah menguliti sebabnya.

Mengapa praktik itu tumbuh?

Karena negara hadir seperti algojo, bukan pelindung.

Karena regulasi dibangun seperti pagar tinggi tanpa pintu masuk bagi rakyat kecil.

Karena petani tembakau dipaksa hidup dalam sistem yang mahal untuk dipatuhi, tetapi murah untuk dihukum.

Harga ditekan.

Akses dipersulit.

Legalitas dipagari biaya dan birokrasi.

Lalu, ketika rakyat mencari celah untuk bertahan hidup, mereka disebut kriminal. Dan aktivis—yang seharusnya membela petani—justru menjadi pengeras suara tuduhan.

Lebih ironis lagi, media ikut menari. Tanpa riset lapangan. Tanpa memahami ekosistem. Tanpa membedakan antara pelaku besar dan petani kecil yang terseret arus. Cukup satu narasi: “Madura = ilegal.” Selesai. Judul naik. Engagement tinggi. Empati mati.

Ini bukan jurnalisme. Ini produksi stigma yang merusak Madura.

Pertanyaannya sederhana—dan menyakitkan:

Apakah mereka pernah duduk bersama petani yang gagal panen, yang harga tembakaunya terus dipermainkan oligarki?

Apakah mereka tahu berapa banyak tokoh pesantren yang diam-diam menopang ekonomi tembakau agar tidak jatuh ke tangan kartel besar?

Apakah mereka pernah membaca upaya serius para kiai dalam menyusun naskah akademik Kawasan Ekonomi Khusus Tembakau Madura—yang justru bertujuan menarik industri ini keluar dari bayang-bayang ilegalitas?

Atau mereka hanya hafal nama, angka, dan jargon, tanpa pernah menyentuh manusia di baliknya?

Aktivis sejati adalah jembatan, bukan algojo sosial. Ia menghubungkan rakyat dengan kebijakan, bukan menjual rakyat sebagai bahan bakar popularitas. Ia menggugat sistem, bukan menumbalkan tetangga dan komunitasnya sendiri.

Jika memang ada dugaan keterlibatan aparat atau permainan dalam struktur, dorong hingga ke akar. Bongkar kebijakan yang menindas. Paksa negara hadir sebagai solusi. Itulah kerja aktivis.

Bukan sekadar menyebut nama, membuat gaduh, lalu meninggalkan luka yang harus ditanggung oleh saudara sendiri.

Mari kita jujur:

Menyerang pengusaha kecil dan petani dengan label “ilegal” bukanlah keberanian. Itu adalah kemalasan intelektual yang dibungkus moralitas.

Masalah rokok ilegal bukan sekadar soal hukum, melainkan soal ekosistem yang timpang. Selama negara lebih suka menindak daripada membina, selama legalitas hanya ramah bagi pemain besar, dan selama petani dibiarkan sendirian menghadapi pasar, maka praktik di wilayah abu-abu akan terus hidup.

Dan setiap kali aktivis atau media datang tanpa empati, tanpa data, tanpa solusi, mereka tidak sedang memperbaiki keadaan.

Mereka justru mempercepat kematian. Bukan kematian industri, melainkan kematian harapan petani di rumahnya sendiri.

Madura tidak membutuhkan penghakiman. Madura membutuhkan keadilan. Kami tidak menolak hukum—kami menolak hukum yang tajam ke bawah, tumpul ke atas, lalu dipropagandakan sebagai kebenaran tunggal.

Jadi, sebelum menyebut tanah kelahiran sendiri sebagai “lumbung ilegal”, cobalah bertanya:

Siapa yang menciptakan kondisi ini?

Siapa yang diuntungkan?

Dan siapa yang terus-menerus dijadikan korban?

Karena yang paling berbahaya hari ini bukan rokok ilegal, melainkan aktivisme yang kehilangan nurani dan media tanpa data yang kehilangan akal sehat.

Tinggalkan Balasan

×