PHRI Probolinggo: Libur Nataru Jadi Momentum Kebangkitan Hotel dan Restoran

IMG 20260102 WA0009 scaled
Haji Rofiq Buka Data: Kinerja Hotel dan Restoran Probolinggo Naik Saat Nataru

PROBOLINGGO — Momentum libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025–2026 menjadi “bahan bakar” utama bagi sektor perhotelan dan restoran di Kabupaten Probolinggo. Pergerakan wisatawan, terutama menuju kawasan Gunung Bromo, terbukti mendongkrak okupansi hotel serta kunjungan ke usaha kuliner di sejumlah titik strategis.

Ketua BPC Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kabupaten Probolinggo, Ir. Ar. H. Rofiq Ali Pribadi, S.T., M.T., IPM., IAI, menyebut kenaikan tersebut sebagai sinyal positif bagi kebangkitan ekonomi pariwisata daerah.

“Selama libur Nataru, tingkat hunian hotel dan restoran di kawasan wisata Bromo naik sekitar 5 hingga 7 persen dibanding hari normal,” ujar Haji Rofiq, Jumat (2/1/2026).

Haji Rofiq menjelaskan, lonjakan kinerja paling signifikan dirasakan oleh hotel dan restoran yang berada di kawasan penyangga destinasi wisata Bromo. Arus wisatawan yang stabil sepanjang libur panjang berdampak langsung pada tingkat hunian kamar serta transaksi usaha.

Namun, ia menegaskan bahwa dampak Nataru tidak dirasakan secara merata. Sejumlah wilayah seperti kawasan Pantura dan Probolinggo timur, khususnya sektor penginapan, masih berada pada kondisi relatif stabil.

“Untuk hotel di Pantura dan wilayah timur, okupansi masih cenderung standar karena jaraknya cukup jauh dari pusat wisata utama,” jelasnya.

Berbeda dengan sektor penginapan, usaha restoran di sepanjang jalur Pantura justru mencatat tren kenaikan signifikan. PHRI mencatat peningkatan jumlah pengunjung restoran mencapai 5 hingga 10 persen selama libur Nataru.

“Kawasan Pantura menjadi jalur lintasan wisatawan antar kota. Banyak yang singgah untuk makan dan beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan,” ungkap Haji Rofiq.

Menurutnya, beroperasinya ruas Tol Probolinggo–Banyuwangi, khususnya Gerbang Tol Tongas hingga Paiton, turut memengaruhi pola perjalanan wisatawan. Infrastruktur tersebut mempercepat mobilitas dan meningkatkan potensi singgah di titik-titik kuliner Pantura.

“Jalur tol membuat perjalanan lebih cepat dan nyaman. Efeknya langsung terasa pada sektor restoran,” katanya.

Ke depan, PHRI Kabupaten Probolinggo mendorong penguatan promosi pariwisata yang lebih merata dan berkelanjutan. Selain Bromo sebagai lokomotif utama, kawasan Paiton–Tongas, jalur selatan Krucil–Tiris–Sukapura, serta potensi pesisir, sungai, dan danau dinilai perlu dikembangkan secara serius.

PHRI berharap tren positif akhir tahun ini dapat menjadi pijakan awal bagi penguatan sektor pariwisata dan ekonomi lokal sepanjang 2026, seiring peningkatan infrastruktur, kualitas layanan, dan promosi destinasi terintegrasi.

×